Rabu, 09 Agustus 2017

Dia bernama “K”

Dulu waktu  aku SMP aku pulang sekolah sekitar jam 1 kurang. Saat itu aku pulang dalam keadaan lapar karena tidak makan sejak pagi di sekolah. Btw ini emang kebiasaanku waktu SMP nggak suka jajan di sekolah, bukan karena makanannya yang nggak enak tapi duitnya yang nggak ada. Hahaha. Balik lagi, akhirnya aku pergi mampir ke rumah makan padang. Waktu itu aku pesen nasi bungkus lauknya ayam goreng plus kuah gulai sedikit, sambal hijau dan daun singkong rebus. Dengan gembira hati aku pulang ke kos membawa sebungkus nasi ramas. Lokasi rumah makan padang itu memang nggak jauh dari kos ku jadi berjalan sekitar 5 menit sudah sampai. Setelah sampai kamar aku meletakkan sepatu dan tas lalu cuci tangan tapa berganti pakaian terlebih dahulu. Persaaan ku waktu itu sungguh bahagia, makan di siang hari saat lapar, nikmat tiada tara. Nasi dan lauk ayam kumakan pakai tangan sesuap demi sesuap kumasukkan ke mulutku. Ooh nikmat!
Tiba-tiba...
 Setelah suapan ke 5.
Saat aku mencarup-carupkan(dicampur-campurkan) nasi dengan kuah gulai TERBUKALAH kuburan kecoa di timbunan nasi yang akan kumakan.
Tidak bisa berkata apa-apa.
Diam.
Diam.
Diam.
Aaaaaaaah.
Mau marah tapi tidak tau pada siapa. Kesel tapi tidak tau harus bilang pada siapa.

Jadi kesimpulannya kecoa alias K itu telah mati bersama nasi yang dimasak. Dia tidak menyangka bahwa hidupnya akan nahas di dandang nasi di sebuah rumah makan. Lalu membuat selera makanku hilang beberapa hari dan tidak pernah kembali ke rumah makan itu lagi. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Cerita Template by Ipietoon Cute Blog Design